AusAID in Indonesia AusAID in Indoneisa

Home > Proyek

Program Rehabilitasi Aceh

 

Kegiatan-kegiatan dibawah Program Rehabilitasi Aceh:

 

Setelah kehancuran hebat akibat bencana tsunami pada 26 Desember 2004, Pemerintah Australia membentuk Australia Indonesia Partnership for Reconstruction and Development (AIPRD), sebuah kemitraan selama lima tahun senilai AUD 1 milyar untuk membantu rekonstruksi dan pembangunan Indonesia di dalam dan di sekitar wilayah yang terkena dampak tsunami.

Tujuan dari Program Rehabilitasi Aceh, yang didanai oleh Australia Indonesia Partnership for Reconstruction and Development (AIPRD) dan dikelola oleh AusAID, adalah untuk membantu pemulihan infrastruktur dan layanan-layanan esensial yang akan membantu masyarakat di Aceh dan Sumatra Utara untuk memulihkan lagi kehidupan mereka. Keputusan-keputusan yang menyangkut alokasi dana AIPRD dilakukan oleh sebuah Komisi Bersama yang diawasi oleh Perdana Menteri Australia dan Presiden Indonesia dan terdiri dari para menteri luar negeri dan menteri-menteri perekonomian dari kedua negara.

Komisi Bersama AIPRD telah menyetujui pengucuran dana senilai AUD 181 juta (IDR 1,2 trilyun) untuk berbagai proyek rekonstruksi Aceh, dan dijumlahkan dengan pembiayaan darurat, dana ini menjadikan total komitmen Australia untuk Aceh berjumlah lebih dari AUD 254,7 juta (IDR 1,7 trilyun). Sampai Desember 2006, hampir AUD 180 juta (IDR 1,2 milyar) telah disalurkan.

Kegiatan-kegiatan utama meliputi:

  • Pembangunan kembali prasarana utama - Australia memberikan komitmen sebesar AUD 10,6 juta (IDR 71 milyar) untuk membangun kembali Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh dan 180 balai dan kantor desa di sepanjang wilayah pantai yang hancur akibat tsunami.
  • Program Bantuan Perumahan senilai AUD 10 juta (IDR 67 milyar) bertujuan membantu membangun rumah-rumah bagi masyarakat yang kehilangan rumahnya akibat tsunami dan memberikan bantuan teknis dalam bidang air bersih dan sanitasi serta logistik untuk membantu LSM-LSM dan Pemerintah Indonesia untuk mengatasi tantangan dalam membangun kembali perumahan tersebut.
  • Australia menyediakan AUD 10 juta (67 milyar IDR) untuk World Food Programme (WFP) untuk memastikan para pengungsi tetap mendapatkan akses terhadap makanan.
  • Health Assistance and Rehabilitation Aceh Program (HARAP) senilai AUD 32 juta (lebih dari IDR 214,4 milyar) sedang membangun kembali infrastruktur kesehatan serta melakukan pelatihan terhadap para perawat, bidan dan dokter sehingga layanan kesehatan dapat berfungsi kembali. Hal ini meliputi juga AUD 10 juta (hampir IDR 67 milyar) untuk membangun kembali Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin.
  • Program Local Governance and Community Infrastructure (LOGICA) senilai AUD 40 juta (IDR 288,1 milyar) bekerja mendampingi di 200 desa untuk menetapkan kembali batas-batas tanah, merencanakan kegiatan-kegiatan pembangunan kembali dan menghidupkan kembali proses perencanaan dan pembuatan keputusan di desa.
  • Program Education Rehabilitation for Aceh (ERA) senilai AUD 33 juta (lebih dari 288 milyar IDR) sedang membangun sekolah-sekolah dan melakukan pelatihan terhadap guru-guru baru setelah tsunami tersebut menewaskan lebih dari 2000 guru.
  • Community and Education Program in Aceh (CEPA) yang bernilai sebesar AUD 10 juta (IDR 67 milyar) bekerja sama dengan komunitas-komunitas sekolah di wilayah yang terkena konflik di Aceh untuk membangun kembali layanan pendidikan yang berkualitas dan memperbaiki kerusakan terhadap bangunan-bangunan sekolah yang ditimbulkan oleh konflik.
  • Bantuan senilai AUD 12 juta (IDR 80,4 milyar) dalam berbagai sektor mata pencarian masyarakat yang di antaranya meliputi program senilai AUD 5 juta (IDR 33,5 milyar) yang dilaksanakan bekerja sama dengan ACIAR (Australian Centre for Agricultural Research) untuk membangun kembali pusat-pusat pertambakan udang, membangun aktivitas-aktivitas budi daya perairan, dan melaksanakan pemetaan salinitas. Bantuan ini juga meliputi AUD 7 juta (hampir IDR 47 milyar) untuk program Regional Enterprise Development bekerja sama dengan International Finance Corporation (IFC).
  • Australia telah menyediakan AUD 10 juta (67 milyar IDR) untuk mendukung pekerjaan memetakan kembali Aceh untuk dipergunakan dalam perencanaan yang tepat bagi pembangunan kembali.
  • Nias Reconstruction Program senilai AUD 10 juta (67 milyar IDR) akan membantu masyarakat di Nias membangun kembali infrastruktur masyarakat yang rusak akibat bencana berganda yakni tsunami dan selanjutnya gempa bumi pada Maret 2005.
  • Australia juga membantu untuk membangun keterampilan dan keahlian di sektor pendidikan tinggi melalui program Aceh Research Training Institute (ARTI) yang bernilai sebesar AUD 3 juta (21 milyar IDR).

Selain itu, Australia menyediakan dana sampai sebesar AUD 3 juta (lebih dari 20 milyar IDR) untuk bantuan dalam rangka memperkuat fungsi koordinasi donor dan perencanaan strategis yang bersifat amat vital bagi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias (BRR) Pemerintah Indonesia.

Aceh juga mendapatkan manfaat dari program-program lain yang didanai oleh AusAID dan AIPRD. Sebagai contoh, pada tahun 2005, 29 bea siswa dari Australian Partnership Scholarship diberikan untuk mahasiswa asal Aceh untuk menjalankan pendidikan pascasarjana di Australia - sekitar 10% dari angkatan pertama. Pada tahun 2006, ada lagi 33 bea siswa APS yang diberikan bagi para mahasiswa asal Aceh - 14% dari angkatan kedua.

Pencapaian-Pencapaian Program

AusAID sangat puas dengan keberhasilan program Australia sampai saat ini; pencapaian-pencapaian yang menonjol adalah sebagai berikut:

  • Australia telah bekerja dengan 70.000 keluarga untuk membantu menetapkan ulang batas-batas tanah hak milik mereka sehingga rumah mereka bisa dibangun kembali.
  • Kami telah membangun lebih dari 1.250 tempat penampungan sementara untuk lebih dari 8000 orang, dan kelompok-kelompok pekerja yang dibiayai oleh Australia membantu untuk menyelesaikan persoalan perumahan.
  • Memulihkan kembali mata pencarian masyarakat dengan pembangunan kembali tempat-tempat pembenihan ikan dan pusat pelatihan di Ujung Batee.
  • Australia telah melatih lebih dari 1.300 anggota masyarakat, setengah dari jumlah itu adalah perempuan, untuk membantu desa mereka dalam membangun kembali rumah-rumah, menyambungkan fasilitas air, sanitasi dan listrik, dan memperoleh akses yang lebih baik bagi fasilitas-fasilitas kesehatan dan pendidikan. Keterampilan-keterampilan ini akan terus dikuasai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lama setelah fase pembangunan kembali setelah tsunami berakhir.
  • Program pembangunan infrastruktur kami telah dijalankan pada lebih dari 200 lokasi konstruksi. Program ini telah membangun kembali unit gawat darurat pada rumah sakit utama Banda Aceh sehingga dapat berfungsi kembali secara sepenuhnya, serta Pelabuhan Ulee Lheue, sebuah jalur pasokan yang amat penting untuk bahan-bahan material pembangunan kembali, sekarang dapat melayani 900 penumpang setiap hari. 35 balai desa telah diselesaikan; 56 balai desa saat ini sedang dalam proses konstruksi, dan total yang direncanakan adalah 180.
  • Australia melatih guru-guru, bidan-bidan, perawat-perawat dan dokter-dokter karena amat banyaknya jumlah korban yang tewas telah menimbulkan kekurangan tenaga dalam layanan kesehatan dan pendidikan. Sebagai contoh, lebih dari 850 pekerja kesehatan telah mendapatkan pelatihan dan lebih dari 4.800 siswa perawat, kebidanan dan perawatan kesehatan telah mendapat beasiswa atau bantuan biaya untuk memungkinkan mereka melanjutkan pendidikan mereka.
  • Australia juga membantu Dayah (pondok pesantren) di Aceh dengan meningkatkan fasilitas dan membangun fasilitas tambahan untuk memperbaiki kondisi bagi lebih dari 1200 santri yang tinggal di pondok.
  • Australia telah membangun kembali tiga sekolah dan dua kantor dinas pendidikan. Pada akhir 2007, akan ada 14 lagi fasilitas pendidikan yang diselesaikan.
  • Menghidupkan kembali universitas-universitas di Aceh juga meliputi membangun kembali dan mengisi kembali perpustakaan-perpustakaan, dan menyediakan bantuan perumahan bagi para dosen dan staf universitas, dan membangun sebuah fasilitas pelatihan guru pada Universitas Syiah Kuala yang akan memberikan pelatihan pada lebih dari 900 guru setiap tahun.
  • Kami membantu Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan agar dapat berfungsi kembali dan agar mampu melakukan perencanaan ke depan dengan membantu dalam pengembangan Rencana Pendidikan Provinsi Aceh dan Rencana Strategis Kesehatan Aceh.

Kembali ke atas

Halaman ini terakhir diperbaharui tanggal 19 Juni 2007

Australia Indonesia Partnership

Home | Cari | Map Situs | Disclaimer | Pernyataan Privasi | Tentang Situs Ini | Hubungi Kami

© Commonwealth of Australia