Kisah tentang Proyek-proyek AusAID |
|
Home > Kisah tentang Proyek-proyek AusAID:
Halina Menikmati Kerja Sukarela di DPRAustralian Volunteers Internasional (AVI) adalah badan pengirim sukarelawan internasional terbesar Australia. Organisasi nirlaba ini memperoleh dana dari Badan Pembangunan Internasional Pemerintah Australia (AusAID), selain itu bantuan dari masyarakat luas melalui penggalangan dana, sumbangan dan pemberian sponsor. Setiap tahun, AVI (www.australianvolunteers.com) merekrut, mempersiapkan dan membantu ratusan warga Australia yang secara sukarela hidup, bekerja, dan belajar bersama dengan penduduk berbagai ebudayaan lain di negara-negara berkembang. Di Indonesia, program sukarelawan internasional Australia diawali tahun 1951, ketika Herb Feith berangkat ke Jakarta untuk bekerja sebagai penterjemah. Sejak saat itu, lebih dari 360 sukarelawan Australia telah tinggal dan bekerja bersama penduduk Indonesia di seluruh Nusantara. Pendidikan adalah kegiatan penting program ini, mulai dari guru taman kanak-kanak hingga dosen. Para sukarelawan juga telah membangun kemitraan dengan badan-badan nasional dan pemerintah daerah serta lembaga-lembaga Islam. Saat ini para sukarelawan memberikan bimbingan tentang proses parlemen internasional di Sekretariat Parlemen, dan menyediakan jasa penyuntingan dan penterjemahan bahasa Inggris di Institut Agama Islam Negeri. Berikut ini artikel yang ditulis oleh Halina Nowicka, seorang sukarelawan AVI yang bekerja di kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta. Salah satu permasalahan krusial dalam proses transisi ke demokrasi di Indonesia adalah kemampuan pegawai negeri senior dan para pejabatnya untuk berkomunikasi secara lintas budaya, dan mengakses serangkaian informasi tentang reformasi dan demokrasi, yang sebagian besar dalam bahasa Inggris. Atas permintaan Pemerintah Indonesia, saat ini saya bekerja sebagai sukarelawan Australia di Sekretariat Jendral DPR Indonesia sebagai seorang konsultan bahasa Inggris. Peran dan tanggung jawab saya adalah meningkatkan kapasitas staf dalam berkomunikasi dengan para mitranya di dinas parlemen luar negeri. Saya melaksanakan ini melalui program-program peningkatan kemampuan bahasa Inggris, dan membantu program percakapan bahasa Inggris yang difokuskan pada topik-topik yang relevan dengan pekerjaan Sekretariat. Bagi seseorang yang tertarik akan parlemen, ini adalah pekerjaan impian. Khususnya di Indonesia saat ini, di mana berbagai upaya dilaksanakan untuk mendefinisikan dan menerapkan ‘sistem terbaik’ governance. Yang membuatnya lebih menarik adalah cara orang Indonesia menjalani kehidupan politiknya yang sangat berbeda dengan kami. Orang-orang yang bekerja dengan saya selalu mempertanyakan sistem nasional mereka karena telah diputuskan bahwa semua ini harus berubah di era paska-Soeharto. Sehubungan dengan upaya Pemerintah Indonesia untuk mengefisienkan pelayanan publik, sedikit sekali sarjana yang direkrut ke dalam Sekretariat, namun 21 sarjana hukum telah bergabung sebagai penyusun undang-undang. Ada juga tujuh sarjana ekonomi yang direkrut untuk mengembangkan proses penyusunan anggaran yang baru. Saya beruntung dapat mengajari mereka semua. Sangat menarik melihat anak-anak muda ini belajar bagaimana menjadi pegawai negeri yang baik. Idealisme dan antusiasme mereka mengagumkan. Sebagian besar orang-orang yang saya ajar adalah pegawai negeri senior. Banyak di antara mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup baik. Saya harus fleksibel saat mengajar karena mereka sering dipanggil keluar kelas untuk pertemuan mendadak, atau dikirim ke kursus lainnya. Agenda mengajar saya bersifat jangka panjang dan akan berlanjut hingga sedikitnya satu tahun. Kembali ke peran saya sebagai guru bahasa Inggris, saya harus memastikan bahwa teks-teks parlemen tertulis dalam bahasa Inggris yang baik, serta terlibat dalam proses penyuntingan dan pengecekan pidato, pengumuman, dan dokumen lainnya. Pejabat dan anggota parlemen Indonesia harus mampu menyampaikan ide-ide mereka dengan jelas dan sesingkat mungkin di forum internasional, sehingga memeriksa paper, surat dan pidato sangat penting bagi mereka. Sangat menarik melihat apa yang disampaikan oleh sejumlah wakil negara sehubungan dengan perubahan dinamis yang terjadi dalam proses politik Indonesia. Saya juga terlibat dalam penyuntingan berbagai buku informasi tentang parlemen, termasuk tampilan fisiknya. Saat ini saya sedang merevisi aturan prosedur Parlemen, beberapa di antaranya harus dirubah agar dapat disesuaikan dengan perencanaan Pemilihan Umum 2004. Sejumlah rekan Indonesia pernah berkunjung ke Australia dan oleh sebab itu memiliki gambaran tentang kapan sistem tersebut bekerja dan kapan tidak. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang sistem Australia. Beberapa di antaranya tertarik tentang bagaimana partai politik dibentuk; bagaimana mereka dipilih masuk atau keluar, dan proses penunjukan para menteri. Bagi yang lainnya, penyusunan undang-undang menjadi minat khusus. Sementara secara tiada henti, namun dengan penuh minat, kami menganalisa perbedaan-perbedaan antara sistem ‘mereka’ dengan ‘kita’. Diskusi-diskusi ini penting bagi tujuan saya untuk membantu riset mengenai proses dan prosedur parlemen asing. Kantor ini bertempat di lingkungan yang indah, dari mana saya dapat melihat proses demokrasi Indonesia dijalankan, dengan organisasi masyarakat madani yang aktif melancarkan protes. Saya beruntung dapat menyaksikan peresmian awal tahun Parlemen dan peringatan Hari Kemerdekaan di Istana Negara. Pengalaman ini benar-benar merupakan peluang berharga bagi pengembangan profesional dan pribadi saya. Cerita ditulis oleh Halina Nowicka, seorang sukarelawan AVI yang bekerja di kantor DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) di Jakarta. Halaman ini terakhir diperbaharui tanggal 20 Juni 2005.
|