Kisah tentang Proyek-proyek AusAID |
|
Home > Kisah tentang Proyek-proyek AusAID
Dari Satu Keajaiban ke Keajaiban LainnyaNina Kurnia Dewi lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 18 Mei 1971. Lulus dari Fakultas Teknologi Agroindustri, Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1993, ia memperoleh Beasiswa Pembangunan Australia untuk melanjutkan studinya di Universitas Queensland, Brisbane, Australia, dan memperoleh gelar MBAnya bulan Desember 2002. Ibu dari dua orang anak, Nina saat ini bekerja sebagai Manajer Pengawasan Kredit pada sebuah badan usaha milik negara (Perum Sarana Pengembangan Usaha) di Jakarta, di mana ia mengkoordinasikan seluruh kegiatan pengawasan kredit, mengendalikan kinerja kredit dan mengatasi masalah-masalah kredit macet. Bagaikan mimpi ketika tahun 1999 saya berniat untuk melanjutkan studi saya. Program master? Di Australia? Tidak mungkin. Australia terlalu jauh. Terlalu mahal. Saya bahkan tidak mampu membiayai studi pasca sarjana di kota asal saya, Jakarta. Saat itu, saya hanya pegawai biasa di suatu badan usaha milik negara di Jakarta. Saya ingin melanjutkan pendidikan saya tapi tidak ada tunjangan atau subsidi dari kantor saya untuk keperluan tersebut. Hanyalah mimpi bisa membiayai studi saya dengan pendapatan saya sendiri. Peluang untuk belajar muncul ketika Kantor Australian Development Scholarship (ADS) di Jakarta mengiklankan program beasiswa di media masa. Melalui program Bantuan Pembangunan Pemerintah Australia (AusAID), ADS memberikan kesempatan bagi warga Indonesia untuk melanjutkan studi ke jenjang Master atau Doktor di Australia. Iklan ini dimuat di koran-koran dan disebarkan ke seluruh departemen-departemen pemerintah di Indonesia. Pemohon harus melewati beberapa tahap seleksi untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Tanpa membuang waktu, saya mengikuti proses seleksi ADS. Setelah memenuhi semua persyaratan, saya diundang untuk mengikuti beberapa tes lanjutan di Jakarta. Setelah lulus seleksi pertama (tes bahasa Inggris), dan mengikuti berbagai wawancara, saya terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa ADS. Ya! Saya berhasil….Ya Tuhan….Ini adalah sebuah keajaiban. Sebelum memulai kursus Bahasa Inggris selama enam bulan untuk Keperluan Akademis (EAP) di Jakarta, saya menyadari bahwa saya mengandung anak pertama saya. Dokter mengatakan bahwa usia kandungan saya empat bulan. Kebingungan mulai melanda. Selain masalah kesehatan, di benak saya terus ada satu pertanyaan: apakah lebih baik membawa bayi saya ke Australia atau meninggalkannya di Indonesia. Namun, anda tahu bahwa tidak mudah bagi seorang ibu baru seperti saya untuk mengambil keputusan semacam itu. Akhirnya anak saya menang: Saya memutuskan untuk menunda program beasiswa. Untungnya, ADS mengizinkan saya menunda kursus EAP saya. Pada bulan Mei 2000, saya memulai kursus bahasa Inggris saya di IALF Jakarta. Enam bulan adalah waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri dengan kemampuan bahasa Inggris dan berteman dengan beberapa rekan ADS. Saya mendapat nilai 7 untuk tes IELTS dan diterima pada program MBA di Universitas Queensland (UQ), Brisbane, Australia. Saya akhirnya berangkat pada tanggal 16 Januari 2001 untuk melanjutkan studi saya. Setelah memutuskan bahwa bergabung dengan saya di Australia akan memberikan nilai tambah bagi hidupnya, suami saya Taufiq mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menyusul saya. Ia datang bersama dengan putra saya tercinta, Ilham yang saat itu berumur 20 bulan. Taufiq berencana untuk mencari pengalaman di Australia termasuk bekerja dan belajar di salah satu universitas Australia. Kami berjuang untuk hidup di Brisbane pada bulan-bulan pertama tahun 2001. Dalam kehidupan kampus, saya harus menyesuaikan diri dengan budaya Australia di dalam kelas. Saya belajar untuk berani mengemukakan pendapat saya, menjadi seorang yang aktif dalam diskusi, berbagi pengalaman dan aspirasi internasional, mampu bekerja dalam kelompok, menghargai perbedaan di antara anggota kelompok dan bahkan belajar untuk bersabar menanti dalam antrian panjang untuk mendapatkan sesuatu. Hidup di sana sedikit lebih keras, tetapi sangat indah. Saya menikmati segalanya di Australia. Saya harus menyelesaikan pekerjaan rumah lebih awal di pagi hari, kemudian membawa Ilham ke penitipan anak dan mengikuti perkuliahan atau pergi ke perpustakaan. Taufiq sibuk memperbaiki bahasa Inggrisnya dan mencari pekerjaan. Di akhir bulan Juli 2002, saya lulus semua mata kuliah semester pertama saya di UQ, Taufiq mendapat pekerjaan sebagai pembersih dan Ilham tumbuh menjadi seorang anak berbahasa Inggris yang selalu bahagia dan menikmati lingkungan tempat penitipannya. Tahun pertama di Brisbane berlalu. Taufiq memutuskan untuk membiayai sendiri gelar Masternya dan mendapat beberapa pengecualian dari Universitas Griffith. Kami menjual mobil kami di Jakarta dan Taufiq bekerja keras untuk meraih gelar Masternya. Saya menyelesaikan semester kedua saya dengan nilai-nilai yang lebih baik di setiap mata kuliah. Hidup begitu indah di Australia. Kami sangat menikmati dan tidak mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan Australia. Kami sudah mulai menetap. Di awal tahun kedua 2002, kami memutuskan untuk memberikan adik bagi Ilham. Saya hamil dan merasa bahagia dengan seluruh kegiatan saya di universitas dan di rumah. Ada sedikit masalah selama kehamilan saya, namun dokter dan rumah sakit Australia sangat membantu. Saya dirawat dengan baik. Pada tanggal 11 September 2002, saya melahirkan bayi kedua lewat operasi Caesar di Royal Women Hospital, Brisbane. Suatu keajaiban yang sempurna bagi saya dan seluruh keluarga. Kami namai dia Queena Nabila, bayi perempuan mungil yang lahir di Queensland ketika kedua orangtuanya sedang belajar. Sambil merawat Queena, saya masih harus mengikuti kuliah
untuk menyelesaikan semester terakhir saya. Masih tiga mata kuliah lagi.
Akhirnya, saya lulus semua mata kuliah saya dan memperoleh gelar MBA pada
tanggal 18 Desember 2002. Taufiq menyelesaikan gelar Master of Banking
and Finance-nya pada saat yang sama. Ilham sudah berumur 3,5 tahun, seorang
bocah lelaki bi-lingual yang senang melompat-lompat dan bernyanyi. Queena
seorang bayi perempuan tiga bulan dan siap untuk melakukan penerbangan
pertamanya. Kisah ini ditulis oleh Nina Kurnia Dewi, mantan penerima beasiswa ADS. Lihat juga kutipan Pidato Nina pada Jamuan Makan Malam Tahunan ADS di Jakarta pada tanggal 3 September 2003. Halaman ini terakhir diperbaharui tanggal 20 Juni 2005.
|